Total Tayangan Halaman

Kamis, 09 Juni 2011

Metode Baru Penentuan Arah Kiblat dengan Segitiga Siku-siku

Tim Syariah

Salah satu Dosen fakultas Syariah IAIN Walisongo, Drs. KH Slamet Hambali, M.Si., yang juga ketua Lajnah Falakiyyah Jawa Tengah menemukan metode baru menentukan arah kiblat. Metode baru temuan ini dinamakan Metode Slamet Hambali. Sebab belum ditemukan oleh siapapun alias murni dari gagasannya.

Metode ini tergolong cukup sederhana, karena hanya dengan teknik pembuatan sudut kiblat memakai segitiga siku-siku dan memanfaatkan bayangan matahari. Cara ini dapat mengetahui arah kiblat dari tempat yang kita inginkan,

Hal disampaikannya usai mengikuti seminar pengujian tesisnya yang berjudul “Uji Akurasi Metode Penentuan Arah Qiblat dengan Segitiga Siku-Siku dari Bayangan Matahari” di Aula I lantai II Kampus I IAIN Walisongo Semarang. Seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Syariah Dr Imam Yahya dan diberi sambutan panjang oleh oleh Rektor IAIN Walisongo Prof Dr H Muhibbin MA.

Penemuan besar ini lansung direspon Dekan Fakultas Syariah, dengan didaftarkan sebagai hak paten. “Penemuan ini sangat sederhana tapi luar biasa. Arah kiblat bagi umat Islam adalah hal yang mendasar, karena sebagai salah satu syarat sahnya ibadah,” ujarnya kepada wartawan.

Pihaknya juga langsung meluncurkan Pusat Layanan Falak (Puslafalak) di kampusnya. Lembaga itu didedikasikan melayani umat untuk membantu menentukan arah kiblat. “Kaum muslimin banyak yang masih bingung menentukan arah kiblat secara tepat, seperti saat pembangunan masjid atau mushola. Kami berharap PLF bisa memberi solusi,” paparnya.

Senada dengan Imam Yahya, Ketua Program Ilmu Falak IAIN Walisongo, DR Arja’ Imroni,, mengatakan, pihaknya berencana menjadikan tesis itu menjadi buku agar bisa dipelajari masyarakat luas. “Kami sangat menghargai setiap penemuan dosen, terutama yang menunjang keilmuan di Fakultas Syariah,” tuturnya.

Ia menerangkan, sebetulnya ada banyak cara menentukan arah kiblat. Biasanya yang digunakan masyarakat adalah ancar-ancar atau perkiraan saja dengan alat bantu kompas. Tentulah belum pasti akurat.Selain itu, ada alat bernama rubu’ mujayyab yang cukup akurat. Namun satuan sudut dalam tabelnya kurang detail karena hanya mencakup satuan menit saja.”

Sedang cara lainnya menggunakan Theodolit dan GPS bisa menghasilkan arah kiblat yang akurat. Hanya saja alat tersebut cukup mahal dan tidak banyak orang yang dapat mengoperasikannya.

Selasa, 07 Juni 2011

Fakultas Syariah IAIN Terima Mahasiswa Santri Berprestasi


Untuk memberdayakan santri santri berprestasi dari pesantren se Indonesia, Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang menerima 30 santri berprestasi untuk dididik menjadi pakar falak di program S.1 prodi Ilmu Falak.

Mereka disaring dari ratusan santri berprestasi yang mendaftar melalui Direktorat PD Pontren Kementrian Agama RI. Tes yang dilakukan meliputi Tes Bakat Skolastik (TBS), Bahasa Arab dan Bahasa Inggris serta pengetahuan kepesantrenan. Tahapan tes ini dilakukan mengingat banyaknya peserta yang mendaftar melalui Pdpontren masing-masing Kemenag di tingkat kanwil masing-masing Propinsi.

Dari selesksi tersebut, ada 30 santri berprestasi yang dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan program bea siswa santri berprestasi selama kurang lebih empat tahun. Mereka dibebaskan dari seluruh proses administrasi keuangan selama kuliah, dan setiap bulan mendapatkan living cost untuk kehidupan sehari-hari.

Menurut Dekan Fakultas Syariah Dr. Imam Yahya, M.Ag., yudisium yang dilakukan di Kemenag RI sangat ketat, karena calon-calon mahasiswa ternyata mempunyai nilai dan prestasi yang unggul, sehingga banyak calon yang unggul terpaksa tidak bisa ditampung di Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah. Ia berharap, mereka bisa dimengambil kuliah di tempat lain sesuai dengan harapan dan keinginan masing-masing.

Hal ini diamini oleh Ketua Prodi Ilmu Falak Dr.H. Mohammad Arja Imroni, di tahun depan prodi Ilmu Falak ini akan membuka jalur mandiri untuk menampung banyaknya animo masyarakat yang mengharapkan bisa kuliah di Prodi Falak. Meski demikian Fakultas Syariah tetap mempersiapkan mahasisa Falak non-PBSB dengan bea siswa lain.

Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah merupakan satu-satunya prodi di lingkungan UIN/IAIN se Indonesia yang mencetak para ahli falak. Mereka mendapatkan bimbingan Ilmu Falak dari para pakar ilmu falak dan ilmu astronomi, baik dari Fakultas Syariah IAIN (KH Slamet Hambali, MA., Ahmad Izudin, M.Ag., dan Syifaul Anam, MH.) maupun dari beberapa ahli astronomi di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Thomas Jamaluddin (Lapan) , dan Dr.Ing. Khafid (Bakorsurtanal).*)

Senin, 06 Juni 2011

UJI AKURASI TEORI SLAMET HAMBALI (Tentang Penentuan Arah Kiblat Dengan Segitiga Siku-SikuDari Bayangan Matahari Setiap Saat)

Arah kiblat merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dari masyarakat. Keberadaannya sebagai salah satu syarat sahnya shalat menjadikan arah kiblat perlu ditentukan dengan sungguh-sungguh. Pada awal tahun 2010, arah kiblat banyak dibicarakan di masyarakat dengan adanya isu pergeseran arah kiblat karena pergeseran lempengan bumi dan gempa bumi. Hampir separuh dari masjid yang ada di Indonesia diperkirakan arah kiblatnya tidak tepat. Banyak masjid dan musholla yang kemudian diukur kembali dengan metode yang canggih untuk dapat menghasilkan arah kiblat yang akurat. Dari pengukuran tersebut, diketahui bahwa sebenarnya arah kiblat masjid tidak pernah bergeser dari tempatnya. Masjid tersebut tetap pada posisi semula, hanya saja metode yang digunakan untuk mengukur arah kiblat tidak seakurat dan secanggih saat ini ketika teknologi telah berkembang lebih maju.

Selama ini kita mengenal banyak metode penentuan arah kiblat, dari yang sederhana seperti rashdul kiblat, kompas, rubu’ mujayyab, dan sebagainya, hingga menggunakan teknologi canggih seperti theodolit dan GPS, dan software-software kiblat. Berbagai metode tersebut memiliki keakurasian masing-masing. Ada yang hanya dapat digunakan sebagai ancar-ancar / perkiraan saja seperti kompas, karena arah utara yang ditunjukkan oleh kompas bukan arah utara sejati dan kompas sangat terpengaruh oleh medan magnet yang ada di sekitarnya, sehingga cukup sulit untuk mendapatkan arah kiblat yang akurat dari kompas. Sedangkan rubu’ mujayyab cukup akurat, hanya saja satuan sudut yang tertera dalam tabelnya kurang detail karena hanya mencakup satuan menit saja. Adapun theodolit dan GPS menghasilkan arah kiblat yang akurat, hanya saja keberadaan alat yang cukup mahal dan tidak banyak orang yang dapat mengoperasikannya sehingga alat ini tidak dapat digunakan oleh masyarakat. Yang paling akurat dari berbagai metode tersebut adalah rashdul kiblat. Selain sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja, metode ini menghasilkan arah kiblat yang akurat sama sebagaimana arah yang dihasilkan oleh alat theodolit dan GPS.

Dari berbagai metode penentuan arah kiblat tersebut, baru-baru ini ditawarkan sebuah teori penentuan arah kiblat dengan menggunakan segitiga dan bayang-bayang matahari. Metode ini tergolong cukup sederhana karena hanya dengan teknik pembuatan sudut kiblat dengan segitiga dan memanfaatkan bayangan matahari, kita sudah dapat mengetahui arah kiblat dari tempat yang kita inginkan. Namun demikian, teori bayang-bayang kiblat dengan menggunakan segitiga perlu dibahas lebih dalam, bagaimana teori ini diaplikasikan di lapangan dan sejauh mana akurasi dari metode tersebut, sebagaimana dalam thesis pakar falak IAIN Walisongo Drs. KH. Slamet Hambali, MSI.

Untuk mengayubagyo tesis yang ditulis oleh salah satu Dosen senior di Fakultas Syariah, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo akan menyelenggarakan SEMINAR: “UJI AKURASI METODE PENENTUAN ARAH QIBLAT DENGAN SEGITIGA SIKU-SIKU DARI BAYANGAN MATAHARI”, pada hari Kamis, 9 Juni 2011 di Aula I lantai II Kampus I IAIN Walisongo Semarang dengan narasumber: Drs. KH. Slamet Hambali, MSI (Penemu Teori, Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo), KH. Noor Ahmad SS, (Pakar Ilmu Falak, Anggota Lajnah Falakiyah PBNU Jakarta) dan Drs. H. Nabhan Masputra, MM (Pakar Ilmu Falak, Anggota Badan Hisab Rukyat Pusat Jakarta).

Seminar akan dibuka oleh Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang sekaligus meloncing PUSLAFALAK (Pusat Layanan Falak) Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. Bertindak sebagai keynote speech Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Muhibbin, MA.

Senin, 30 Mei 2011

Merumuskan Hukum Islam yang Dialogis

Oleh: Dr. Elsa Syariati

Sudah mafhum bagi umat Islam, wahyu al Qur’an yang dijadikan sumber hukum di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak sekaligus, melainkan secara berangsur (tadrij) di Mulai di Makkah dan diakhiri di Madinah. Atas dasar wahyu yang sudah diturunkan itulah Nabi menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat pada waktu itu. Tetapi ada kalanya timbul persoalan yang cara penyelesaiannya belum disebut oleh wahyu yang sudah diterima Nabi dan memakai Ijtihad.

Bahkan, Muhammad SAW menjadi satu-satunya sumber hukum karena hampir segala persoalan hukum dikembalikan kepada Muhammad untuk menyelesaikannya. Secara direct pembuat hukum adalah Muhammad SAW, tetapi secara indirect Tuhanlah pembuat hukum, karena hukum yang dikeluarkan oleh Muhammad bersumber pada wahyu Tuhan.

Minggu, 29 Mei 2011

Pojok Bursa IAIN Walisongo Go Publik



SEMARANG-Untuk pertama kalinya di lingkungan IAIN di Indonesia, Pojok Bursa tampil di lembaga perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Menurut Rektor IAIN Walisongo Semarang Prof Dr. Muhibbin, MA., pojok bursa IAIN lahir dalam rangka mewadahi aktifitas mahasiswa Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah dalam menerapkan ilmu ilmu Ekonomi Islam di Indonesia.

Senada dengan itu, Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, Dr. Imam Yahya, M.Ag. menhharapkan dibukanya Pojok BEI di IAIN bias menjadi pusat sosialisasi dan edukasi bagi mahasiswa dan seluruh anggota masyarakat. Melalui Pojpk Bursa BEI di Fakultas Syariah mahasiswa akan tersadarkan bahwa bursa bukan hanya mainan orang-orang kaya berduit, tetapi bursa merupakan upaya para pengusaha dalam mem-publik-kan sebuah perusahaan.

Hal itu dipaparkan dalam seminar nasional bertema “Strategi Investasi di Pasar Modal Syariah” yang diadakan Fakultas Syariah IAIN Walisongo dalam rangka Dies Natalis ke-41 serta penandatanganan nota kesepahaman antara IAIN Walisongo, Bapepam-LK, PT Bursa Efek Indonesia, dan PT BNI Securities di auditorium II kampus III IAIN Jalan Prof Hamka Ngaliyan, Semarang, kemarin. Pada saat bersamaan diluncurkan pojok Bursa Efek Indonesia IAIN Walisongo.

Dekan juga mengharapkan agar Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI) di IAIN Walisonmgo juga bias memediasi kalangan usahawan dengan para pemilik modal yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Dengan adanya lembaga ini, masyarakat yang pro syariah bias melakukan transaksi tanpa ada pandangan waswasa atau ragu terhadap bursa efek. .

Regulasi BEI

Tingkat pemahaman pelaku dan masyarakat, terutama perihal regulasi dan sistem pasar modal syariah hingga kini masih rendah. Tak mengherankan apabila pasar modal syariah masih tetap dikesankan negatif, yakni sebagai arena transaksi riba. Muhammad Touriq, Kepala Bagian Pengembangan Kebijakan Pasar Modal Syariah Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan bahwa seluruh efek syariah, yakni 11 seri SBSN, 31 sukuk (obligasi syariah) korporasi, 40 unit penyertaan reksa dana syariah, serta 221 saham emiten dan perusahaan publik, diawasi Bapepam LK.

Thariq menambahkan bahwa Syarat perusahaan efek masuk daftar efek syariah pun tidak mudah. Yakni, harus memenuhi kriteria rasio total utang ribawi (berbasis bunga) dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82%, serta kontribusi total pendapatan nonhalal dibandingkan dengan total pendapatan usaha dan pendapatan lain harus tak lebih dari 10%.
Dengan adanya jaminan tersebut, lanjut dia, sudah seharusnya kekhawatiran perihal penerapan sistem syariah sepenuhnya pada seluruh perusahaan efek tak lagi tepat menjadi alasan seorang muslim dalam menanamkan investasi saham di pasar modal syariah.*)


Rabu, 25 Mei 2011

Launching Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI) Fak Syariah IAIN Walisongo

Launching Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI)
Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang akan mengadakan “Launching Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI)”. Acara di gelar Kamis, 26 Mei 2011 mulai jam 09.00 pagi di Aula II, Kampus III IAIN Walisongo Semarang. Hadir sebagai Narasumber dari Ketua Bapepam-LK (Etty Retno Wulandarai), Direktur PT. Bursa Efek Indonesia (Supandi), Presdir PT. BNI Sekuritas (Jimmy Nyo), IAIN Walisongo (Wahab Zaenuri), Rektor IAIN (Prof. Dr. Muhibbin Noor, MA), dan Dekan Fakultas Syariah (Dr. Imam Yahya, MA). Pemberitaan ini sekaligus undangan bagi yang berminat untuk berdiskusi. (Ar)